Banda Aceh, 23 Juli 2026 menjadi salah satu perjalanan yang paling berkesan bagi saya. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan dinas, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar, berbagi ilmu, sekaligus menikmati keindahan alam dan sejarah yang dimiliki Provinsi Aceh.

Berangkat Menuju Banda Aceh

Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) menuju Bandara Sultan Iskandar Muda (BTJ) menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Perjalanan udara berlangsung dengan nyaman hingga akhirnya saya tiba di Banda Aceh, kota yang dikenal sebagai Serambi Mekkah.

Kedatangan saya ke Banda Aceh bukan untuk berlibur semata, melainkan menjalankan amanah dari Kementerian Koperasi Republik Indonesia sebagai fasilitator dalam kegiatan pelatihan bagi peserta SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) yang diselenggarakan di Rindam Iskandar Muda.

Berbagi Ilmu untuk Calon Manajer Koperasi Merah Putih

Selama dua hari saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar dan berdiskusi bersama para peserta SPPI yang dipersiapkan menjadi Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung Program Strategis Nasional melalui penguatan kelembagaan koperasi di seluruh Indonesia. Para peserta dibekali berbagai materi mengenai tata kelola koperasi modern, manajemen usaha, pelayanan anggota, pengelolaan keuangan, digitalisasi koperasi, hingga strategi pengembangan bisnis yang berkelanjutan.

Antusiasme para peserta sangat luar biasa. Banyak diskusi menarik yang terjadi selama pelatihan, menunjukkan semangat mereka untuk menjadi pengelola koperasi yang profesional dan mampu membawa Koperasi Merah Putih menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di daerah masing-masing.

Bagi saya pribadi, pengalaman mengajar di Rindam Iskandar Muda menjadi pengalaman yang sangat berharga karena dapat berkontribusi secara langsung dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia koperasi Indonesia.

Menjelajahi Kota Banda Aceh

Setelah seluruh rangkaian pelatihan selesai, tibalah saatnya menikmati keindahan Kota Banda Aceh.

Saya menghabiskan waktu dengan mencicipi berbagai kuliner khas Aceh yang terkenal kaya akan rempah-rempah. Mulai dari kopi Aceh, mie Aceh, hingga berbagai hidangan laut yang segar menjadi pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.

Selain menikmati kuliner, saya juga mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang menjadi saksi dahsyatnya bencana tsunami tahun 2004.

Salah satu yang paling membekas adalah mengunjungi masjid-masjid yang tetap berdiri kokoh meskipun diterjang gelombang tsunami. Bangunan-bangunan tersebut kini menjadi simbol keteguhan, keimanan, dan harapan masyarakat Aceh setelah bencana besar yang melanda pada 26 Desember 2004.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Museum Tsunami Aceh. Museum ini tidak hanya menyimpan dokumentasi tragedi tsunami, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional yang mengingatkan pengunjung tentang besarnya kekuatan alam sekaligus pentingnya solidaritas kemanusiaan. Berjalan menyusuri lorong-lorong museum membuat saya semakin menghargai perjuangan masyarakat Aceh untuk bangkit dari musibah tersebut.

Menyebrang ke Pulau Sabang

Keesokan harinya petualangan berlanjut menuju Pulau Sabang menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Ulee Lheue.

Perjalanan laut yang cukup singkat menyuguhkan pemandangan Selat Malaka yang indah. Setibanya di Sabang, tujuan utama saya tentu saja adalah mengunjungi Titik Nol Kilometer Indonesia.

Berada di titik paling barat Indonesia memberikan perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya bangga dapat berdiri di lokasi yang selama ini hanya sering dilihat melalui buku maupun media. Monumen Nol Kilometer menjadi simbol persatuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bermalam di Iboih & Snorkeling di Pulau Rubiah

Setelah puas menikmati kawasan Nol Kilometer, saya melanjutkan perjalanan menuju Pantai Iboih, salah satu destinasi wisata paling terkenal di Sabang. Saya memutuskan untuk menginap satu malam di kawasan ini agar dapat menikmati suasana pantai yang tenang, udara yang sejuk, serta pemandangan laut yang begitu jernih. Malam di Iboih terasa sangat damai, jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Pagi harinya menjadi salah satu momen yang paling saya tunggu, yaitu snorkeling di Pulau Rubiah.

Sebelum menuju lokasi snorkeling, saya terlebih dahulu berziarah ke Makam Cut Nyak Siti Rubiah, seorang tokoh penyebar agama Islam di kawasan Sabang yang sangat dihormati masyarakat setempat. Berdasarkan tradisi lokal, beliau wafat sekitar tahun 1779 M, dan namanya kemudian diabadikan menjadi nama Pulau Rubiah.

Setelah berziarah, saya langsung menuju lokasi snorkeling. Air laut yang sangat jernih membuat pemandangan bawah laut terlihat begitu indah. Berbagai jenis ikan hias berwarna-warni berenang bebas di antara terumbu karang yang masih alami. Pengalaman ini benar-benar menjadi salah satu highlight selama berada di Aceh.

Perjalanan Pulang yang Penuh Cerita

Usai menikmati keindahan Sabang, tibalah saatnya kembali ke Jakarta melalui Bandara Sultan Iskandar Muda menggunakan pesawat Super Air Jet. Namun perjalanan pulang ternyata tidak berjalan semulus yang diharapkan. Pesawat mengalami keterlambatan (delay) selama hampir lima jam. Meskipun cukup melelahkan, pihak maskapai memberikan kompensasi berupa makanan ringan, air mineral, makan malam, serta cashback sebesar Rp300.000, sehingga para penumpang tetap merasa diperhatikan selama menunggu keberangkatan.

Pesawat akhirnya lepas landas dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 22.10 WIB. Perjalanan belum selesai. Sambil berlari-larian dari bandara saya langsung melanjutkan perjalanan menggunakan travel menuju Stasiun Pasar Senen, dan tiba sekitar pukul 23.20 WIB.

Kemudian mengejar kereta api terakhir yang berangkat pukul 23.50 WIB menuju Pekalongan. Setelah perjalanan semalaman, akhirnya saya tiba di Stasiun Pekalongan sekitar pukul 04.30 WIB.

Perjalanan ke Banda Aceh dan Sabang kali ini memberikan pengalaman yang sangat lengkap. Di satu sisi saya mendapatkan kehormatan untuk berbagi ilmu dalam program strategis nasional penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sementara di sisi lain saya memperoleh kesempatan menikmati keindahan alam, kekayaan budaya, sejarah, dan keramahan masyarakat Aceh.

Meskipun perjalanan pulang cukup melelahkan karena harus menghadapi keterlambatan penerbangan dan perjalanan darat yang panjang, semua itu terbayar dengan pengalaman yang begitu berharga. Dari ruang kelas di Rindam Iskandar Muda hingga hamparan laut biru Pulau Rubiah, setiap langkah perjalanan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki begitu banyak keindahan serta semangat gotong royong yang patut untuk terus dijaga.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Dari Kelas Rindam Iskandar Muda Banda Aceh, Sampai Menikmati Keindahan Serambi Mekkah hingga Titik Nol Indonesia