MENYALAKAN API INOVASI:

Kontribusi Akademisi – Praktisi bagi Inklusi Keuangan, UMKM dan Transformasi Digital Indonesia

Abdul Razak Naufal

Di tengah derasnya arus transformasi digital dan semangat Kampus Berdampak, saya meyakini bahwa peran seorang akademisi tidak pernah berhenti di batas dinding ruang kelas. Misi saya sederhana namun mendasar, menyalakan api inovasi pada generasi muda dan mengubah ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat. Saya seorang dosen Ilmu Komputer di Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan sekaligus praktisi teknologi di UKM Indonesia (ukmindonesia.id), Platform video belajar gratis Tumbu (tumbu.co.id), dan PT. Imfea Software Solusindo (ISSO), yang menekuni persinggungan antara kecerdasan buatan, analitika data, serta pemberdayaan dan pendampingan UMKM. Bagi saya, ilmu komputer bukan sekadar deretan algoritma, melainkan alat untuk memperjuangkan akses keadilan bagi pelaku UMKM. Esai ini memaparkan siapa saya, peran yang ingin saya jalankan, cara saya mewujudkannya, serta komitmen kontribusi saya bagi institusi asal dan bangsa.

Deskripsi Diri: Potensi, Kekuatan, Kelemahan, dan Pencapaian

Potensi terbesar saya terletak pada sebuah identitas ganda yang jarang dijumpai, kaki saya berdiri di tiga dunia sekaligus yaitu akademik, industri, dan masyarakat. Sebagai akademisi, saya terlatih berpikir sistematis, kritis, dan berbasis bukti. Sebagai praktisi teknologi, saya terbiasa menerjemahkan gagasan menjadi produk yang benar-benar digunakan orang. Dan sebagai bagian dari komunitas, saya memahami denyut persoalan UMKM dan koperasi dari jarak paling dekat, bukan dari laporan, melainkan dari percakapan langsung dengan pengurus koperasi, stakeholder dan pelaku usaha sampai ke daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T). Kemampuan menjembatani teori dan praktik inilah yang saya pandang sebagai potensi utama untuk terus saya asah menjadi kontribusi yang lebih luas.

Kekuatan saya bertumpu pada dua hal, yaitu kedalaman teknis dan konsistensi menghasilkan karya. Saya menekuni machine learning, credit scoring, digital marketing dan big data, telah menuangkannya dalam lebih dari lima belas karya ilmiah. Karya-karya tersebut mulai dari penerapan Support Vector Machine (SVM) yang dioptimasi dengan Particle Swarm Optimization (PSO) untuk analisis credit scoring, segmentasi anggota koperasi berbasis pola simpanan dengan analisis RFMP untuk meningkatkan loyalitas, penanganan ketidakseimbangan kelas melalui bootstrapping dan seleksi fitur, hingga pemetaan geospasial sebaran UMKM dan digitalisasi koperasi berbasis sistem informasi. Karya ini mulai dari peramalan berbasis ARIMA, sistem pendukung keputusan berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP), hingga visualisasi geospasial. Namun, kekuatan yang paling saya syukuri bukanlah jumlah publikasi melainkan hilirisasinya, gagasan saya tidak berhenti sebagai naskah, melainkan telah menjadi produk yang benar-benar bekerja dan telah banyak digunakan oleh masyarakat.

Bersama tim, saya mengembangkan dan mengoperasikan Sistem Core Banking atau Sistem Informasi Koperasi (SISKA, siska.isso.co.id) serta Point of Sale Multi-Outlet terintegrasi (PoS, pos.isso.co.id) untuk toko UMKM, bengkel, koperasi dan minimarket. Kedua sistem ini bukan purwarupa yang berhenti di laboratorium, keduanya telah diimplementasikan dan melayani ribuan anggota di sejumlah koperasi simpan-pinjam dan lembaga keuangan mikro sejak tahun 2020 hingga saat ini. Dari sistem inilah lahir fondasi data yang otentik bagi penelitian saya, dan dari sanalah saya belajar bahwa sebuah penelitian baru benar-benar “selesai” ketika ia meringankan pekerjaan seorang kasir toko, teller koperasi, mempercepat keputusan seorang analis kredit, membuka pintu pembiayaan bagi seorang pelaku usaha kecil dan lainnya. Pencapaian ini kian bermakna karena kini saya melanjutkannya ke jenjang doktoral, dengan penelitian tentang kerangka Explainable Adaptive Decision Intelligence untuk penilaian kredit alternatif bagi UMKM thin-file, sebuah upaya menyatukan akurasi, keadilan, keterjelasan, dan kemampuan beradaptasi dalam satu sistem yang bertanggung jawab.

Saya menyadari kelemahan saya, dan justru dari kesadaran itulah saya bertumbuh dan berkembang. Antusiasme saya untuk terlibat dalam banyak peran sekaligus, mengajar, meneliti, membangun sistem, sekaligus mendampingi UMKM, koperasi termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) bahkan kepada ekosistem pesantren. Saya juga menyadari perlunya konsep teoretis dan memperluas jangkauan publikasi pada jurnal internasional bereputasi, agar dampak gagasan saya tidak berhenti di tingkat lokal. Menyikapi hal ini, saya menempuh studi doktoral untuk mempertajam fondasi teoretis, khususnya dalam kecerdasan buatan yang bertanggung jawab, saya pun belajar untuk lebih memprioritaskan, mendelegasikan, dan membangun kolaborasi tim agar energi saya tersalur pada hal-hal yang paling berdampak. Bagi saya, kelemahan bukanlah titik akhir, melainkan peta jalan untuk berkembang.

Peran yang Akan Saya Jalankan

Sebagai akademisi di era transformasi digital dan dalam semangat Kampus Berdampak, saya melihat tiga peran yang saling menguatkan dan ingin saya jalankan secara utuh. Pertama, sebagai pendidik yang mencetak generasi muda yang adaptif, kritis, dan inovatif, bukan sekadar penghafal teori, melainkan problem-solver nyata bagi masyarakat. Kedua, sebagai peneliti yang mengembangkan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab (responsible AI) untuk memperluas inklusi keuangan. Ketiga, sebagai jembatan yang menghubungkan kampus dengan Industri, ekosistem koperasi dan UMKM, sehingga ilmu pengetahuan mengalir langsung ke tempat ia paling dibutuhkan.

Peran penelitian saya berpusat pada satu persoalan besar yang mendesak, puluhan juta pelaku UMKM di Indonesia tersisih dari akses pembiayaan formal semata-mata karena mereka tidak memiliki jejak kredit ataupun transaksi perbankan, persoalan thin-file. Melalui pengembangan alternative credit scoring yang adaptif, adil, dan dapat dijelaskan, saya ingin memastikan bahwa kecerdasan buatan tidak menjadi tembok baru yang menghambat, melainkan jembatan yang merangkul. Peran ini selaras dengan arah kebijakan nasional, termasuk POJK Nomor 29/POJK.03/2024 tentang penilaian kredit inovatif, serta dengan cita-cita besar memperkuat koperasi sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan.

Cara Saya Mewujudkan Peran Tersebut

Dalam pengajaran, saya menerapkan pembelajaran berbasis proyek riil dan studi kasus yang lahir langsung dari penelitian dan produk saya. Alih-alih memberi mahasiswa soal fiktif, saya mengajak mereka menyentuh persoalan sungguhan, seperti merancang modul pada sistem core banking, menganalisis pola transaksi koperasi, atau membangun fitur pada sistem point of sale. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi merasakan bagaimana sebaris kode dapat mengubah cara sebuah koperasi melayani anggotanya. Saya juga membuka sumber belajar dan hasil tri dharma saya secara daring melalui blog pribadi (abdulrazaknaufal.com), agar pengetahuan yang saya miliki dapat diakses lebih luas, melampaui batas ruang kelas.

Dalam penelitian, saya berkomitmen menuntaskan riset doktoral tentang kerangka Adaptive Decision Intelligence dan mempublikasikannya pada forum ilmiah bereputasi, sekaligus menghilirkannya kembali ke dalam produk yang saya kelola. Saya akan memperkuat kolaborasi antar pihak dengan koperasi dan lembaga keuangan mikro sebagai mitra data dan uji lapangan, dengan sesama akademisi untuk memperkaya perspektif, dan dengan regulator agar hasil riset relevan dengan kebutuhan tata kelola. Prinsip saya sederhana, riset yang baik adalah riset yang lahir dari persoalan nyata dan kembali menyelesaikan persoalan itu. Saya juga bertekad melibatkan mahasiswa secara langsung dalam agenda riset ini, membentuk kelompok riset kecil yang menumbuhkan budaya bertanya, bereksperimen, dan berpublikasi sejak dini, sehingga regenerasi peneliti berjalan alami di lingkungan kampus.

Dalam pengabdian kepada masyarakat, saya akan melanjutkan dan memperluas upaya digitalisasi koperasi dan UMKM melalui implementasi sistem, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan. Saya percaya bahwa transformasi digital sejati tidak terjadi ketika sebuah aplikasi selesai dibangun, melainkan ketika pengurus lembanga keuangan, stakeholder dan pelaku UMKM mampu dan percaya diri menggunakannya untuk bertumbuh. Ketiga jalur ini pengajaran, penelitian, dan pengabdian saya rangkai bukan sebagai tiga tugas terpisah, melainkan sebagai satu lingkaran yang saling menguatkan. Pengabdian melahirkan persoalan riset, riset memperkaya pengajaran, dan pengajaran menyiapkan generasi yang akan melanjutkan pengabdian.

Komitmen Kontribusi Berdampak bagi Institusi Asal dan Negara

Kontribusi saya bagi bangsa juga telah dimulai jauh sebelum jenjang doktoral ini. Di dunia industri, Bersama BAKTI – KOMINFO pada saat pandemi Covid-19, saya pernah terlibat langsung dalam pembangunan akses internet 4G ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) di berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Merauke, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kupang, Halmahera, Maluku, Aceh, hingga pedalaman Sulawesi & Kalimantan. Bersama Kementerian Koperasi dan UMKM (KEMENKOP) saya juga pernah mendampingi digitalisasi koperasi di Maluku, Kalimantan, Bali, dan Jawa Tengah. Bagi saya, ini bukan sekadar proyek teknis, melainkan upaya membuka gerbang peluang, digitalisasi serta akses internet yang memampukan masyarakat terpencil dapat memasarkan produk lokal secara daring, menumbuhkan pariwisata daerah, dan memperluas jangkauan pendidikan bagi anak-anak di ujung negeri. Pengalaman itulah yang meneguhkan keyakinan saya bahwa teknologi harus hadir sebagai pemerata kesempatan, bukan penambah kesenjangan.

Bagi institusi asal saya, saya berkomitmen menjadi motor penggerak budaya riset terapan yang berdampak. Saya ingin menginisiasi dan membangun kelompok riset atau pusat kajian yang berfokus pada teknologi finansial dan inklusi keuangan, sehingga kampus memiliki keunggulan khas yang dikenal luas. Saya akan memperkuat kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang selaras dengan kebutuhan industri dan masyarakat, membimbing dosen muda serta mahasiswa untuk produktif berkarya dan berpublikasi, serta ikut mendorong pencapaian indikator kinerja utama dan mutu akreditasi program studi. Gelar dan ilmu yang saya raih tidak akan saya simpan untuk diri sendiri, melainkan ini adalah amanah yang harus saya tularkan agar institusi tumbuh bersama. Saya membayangkan sebuah kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan solusi, tempat setiap penelitian memiliki muara yang jelas di tengah masyarakat, dan setiap dosen menjadi teladan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Khoirunnas anfauhum linnas (خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ), yang berarti “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (orang lain).

Bagi negara, komitmen saya berakar pada keyakinan kemajuan Indonesia ditentukan oleh seberapa inklusif kita membangun. Melalui riset dan produk yang saya kembangkan, saya ingin berkontribusi nyata pada perluasan inklusi keuangan bagi puluhan juta UMKM dan masyarakat yang selama ini belum tersentuh layanan keuangan formal, yang butuh pendampingan usaha, maupun sentuhan teknologi untuk menumbuh kembangkan usaha mereka. Saya ingin memastikan penerapan kecerdasan buatan di sektor keuangan berjalan secara transparan, adil, dan akuntabel. Saya juga ingin memperkuat digitalisasi UMKM dan koperasi sebagai soko guru perekonomian, mendukung agenda penguatan koperasi desa dan ekonomi kerakyatan, serta menyiapkan sumber daya manusia unggul yang menjadi prasyarat menuju visi Indonesia Emas 2045. Setiap UMKM yang memperoleh akses pembiayaan yang adil, setiap koperasi yang bertransformasi menjadi lebih efisien, dan setiap mahasiswa yang saya antar menjadi problem-solver. Komitmen ini sejalan pula dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya perluasan inklusi keuangan, penciptaan pekerjaan yang layak, serta pengurangan kesenjangan, sebuah kontribusi yang melampaui batas satu institusi dan menyentuh cita-cita kolektif bangsa.

Pada akhirnya, saya kembali pada misi yang menyalakan langkah saya, menyalakan api inovasi generasi muda dan membumikan ilmu pengetahuan menjadi solusi, dan saya meyakini dengan sumbangan ilmu ini bisa menjadi amal jariah saya yang tidak terputus walaupun saya sudah di alam barzah. Saya tidak memandang diri saya semata sebagai pengajar atau peneliti, melainkan sebagai penghubung antara ilmu dan manfaat, antara kampus dan masyarakat, antara teknologi dan keadilan. Dengan seluruh potensi, kekuatan, dan bahkan kelemahan yang terus saya perbaiki, saya berkomitmen menjalankan peran ini sepenuh hati demi institusi yang membesarkan saya, dan demi Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan berdaya di era digital.