Oleh: Prof.Dr. Ahmad Subagyo[1] (WR3 IKOPIN University dan Ketum ADEKMI) Coba bayangkan sebuah desa mungil di Korea Selatan pada dekade 70-an. Gubuk beratap jerami, jalanan berlumpur, seakan waktu berhenti sejak zaman dahulu kala. Kemelaratan mencengkeram, dan harapan hampir pupus. Ajaibnya, kurang
Mengulik Dua Pendekatan Pemberdayaan Desa: Saemaul Undong ala Korea Selatan dan Koperasi Desa Merah Putih di Indonesia

